Vape dapat tingkatkan risiko infeksi dengan mengubah mikrobioma oral

Bagi para pecinta rokok, vapor merupakan salah satu pilihan untuk merokok selain rokok konvensional. Vapor atau e-cigarettes merupakan rokok elektrik yang tengah menjadi tren di seluruh dunia. Selain memiliki desain yang lebih fashionable, vapor juga dianggap lebih aman untuk digunakan. Tak hanya bagi perokok, e-cigarettes atau biasa disebut dengan vape ini juga menarik banyak minat bagi mereka yang bukan perokok sebelumnya.

Tak seperti rokok konvensional yang mengandung tembakau, vape dianggap dapat menjauhkan tubuh dari risiko kesehatan seperti kerusakan paru-paru hingga kanker. Namun, tak se-aman yang diperkirakan, vape juga dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh. Menurut hasil studi terbaru yang dilakukan oleh NYU College of Dentistry, peneliti menemukan bahwa vaping dapat mengubah mikrobioma mulut yang dapat berimbas pada tingginya risiko infeksi. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam iScience.

Dalam studinya, para peneliti melakukan perbandingan antara 3 kelompok, yaitu kelompok perokok vape, perokok konvensional, serta bukan perokok. Dengan mengumpulkan sampel saliva dari 119 peserta, peneliti melakukan sekuensing genetik untuk melihat mikrobioma yang ada. Selain itu, untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sel tubuh, peneliti melakukan kultur sel faring manusia dan memaparkannya ke aerosol yang berasal dari vape.

Hasilnya, mereka yang merokok menggunakan vape diketahui mengalami adanya perubahan yang signifikan terhadap mikrobioma mulut. Jika dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok dan perokok konvensional, pengguna vape diketahui memiliki jumlah bakteri Porphyromonas dan Veillonella-- bakteri yang berkaitan dengan risiko penyakit gusi--yang lebih tinggi. Selain itu, paparan aerosol yang berasal dari vape juga dapat mempengaruhi kesehatan sel. Sel tubuh lebih mudah terinfeksi oleh bakteri dan menyebabkan peradangan.

 

Ditulis oleh Anggie Triana
Sumber foto: Pixabay

Sumber lainnya:

Jurnal Terbaru