ARDS: Definisi, gejala,dan penyebabnya

Acute respiratory distress syndrome (ARDS) merupakan salah satu gangguan pernapasan yang terjadi ketika adanya penumpukan cairan pada kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru. Penumpukan tersebut dapat mengakibatkan kurangnya udara pada paru-paru sehingga pasokan oksigen ke dalam aliran darah juga ikut menurun. Kondisi tersebut dapat merusak organ vital lainnya dalam tubuh, bahkan memaksa mereka untuk berhenti bekerja. Jika tidak cepat ditangani, hal ini tentunya dapat mengancam jiwa penderitanya. Adapun gejala yang sering terjadi yaitu sesak napas, ritme napas menjadi cepat, dan tekanan darah rendah.

Pada umumnya, ARDS terjadi karena disebabkan oleh masalah kesehatan lainnya seperti sepsis, pneumonia akut, menghirup zat berbahaya, cedera berat pada kepala atau dada, pankreatitis, memiliki luka bakar atau sedan menjalani transfusi darah. Bahkan di tengah pandemi saat ini, diketahui bahwa COVID-19 dapat menjadi pencetus terjadinya ARDS. Adapun faktor lain yang bisa meningkatkan risiko ARDS yaitu usia lanjut, gemar konsumsi alkohol dan merokok. Tak hanya faktor ‘luar’, faktor ‘dalam’ tubuh, yaitu mikrobioma paru-paru ternyata juga memegang peran penting.

Pada dasarnya, tubuh mengandung triliunan sel mikroba yang memiliki perannya masing-masing. Tak hanya bakteri, fungi juga termasuk dalam mikrobioma tubuh. Di dalam paru-paru, fungi diketahui memegang peran penting dalam menjaga kinerja organ tersebut. Menurut hasil studi terbaru yang dipresentasikan dalam European Respiratory Society International Congress, keberagaman fungi dalam paru-paru dapat menjadi faktor terjadi ARDS. Rendahnya keragaman fungi diketahui berkaitan dengan risiko ARDS yang lebih tinggi, bahkan dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih parah.

Dalam studinya, peneliti melakukan analisa terdapat 202 pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap ARDS. Peserta diketahui memiliki usia rata-rata 50 tahun, dimana 61% dari jumlah peserta merupakan wanita. Untuk menganalisa keragaman fungi, sampel lendir dari trakea dikumpulkan dalam waktu 48 jam setelah intubasi, lalu setelahnya dilakukan analisis DNA.

Diketahui bahwa 21% dari jumlah peserta mengalami ARDS. Peneliti menemukan, peserta dengan ARDS memiliki keragaman fungi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan peserta tanpa ARDS. Bahkan kondisi tersebut diketahui berkaitan dengan gagalnya fungsi organ, syok, dan sepsis. Rendahnya keragaman fungi juga berkaitan dengan tingkat protein pentraxin-3 yang lebih tinggi, sebagai penanda peradangan dalam tubuh. Pada dasarnya, fungi dalam tubuh berperan dalam mengaktifkan dan mengatur sistem kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, rendahnya keragaman fungsi dapat mengakibatkan hiperinflamasi dalam tubuh.

 

Ditulis oleh Anggie Triana
Sumber foto: iStock

Sumber lainnya:

Jurnal Terbaru